| HOME |-------------------------------------------------| MY WORLD |-------------------------------------------------| MY BRAIN |-------------------------------------------------| ARTIKEL |
.
.
.
.

Sunday, February 7, 2010

ICW: International Corroption Words

Pernahkah anda mendengar lembaga swadaya masyarakat pengawas korupsi yang namanya tersebut dalam judul di atas? Kalau jawaban anda Ya, saya yakin pasti akan disertai dengan kata tapi. 'Tapi singkatannya bukan itu' atau 'tapi saya taunya ICW doang' mungkin? Ya, mata dan otak anda sama sekali tidak salah, karena yang salah adalah surat panggilan kepolisian, bukan anda.

Sudah lama memang kasus pemanggilan anggota ICW ke kepolisian atas tuduhan pencemaran nama baik yang dilaporkan oleh pihak kejaksaan itu mencuat ke permukaan. Menurut beberapa pakar, hal tersebut disinyalir adanya motif terselubung oleh oknum kejaksaan untuk menekan pihak ICW sebagai penggiat gerakan anti korupsi di republik ini. Lucunya, dalam surat panggilannya, penulisan nama panjang ICW yang semestinya Indonesia Corruption Watch menjadi International Corroption Words. Dan sebaiknya saya tidak terlalu banyak berkomentar mengenai ini, atau lebih tepatnya mengenai siapa juru ketik yang bodoh ini. :D

Oke, bounce to main topic. Bicara mengenai ICW tentunya tidak akan terlepas dari bicara tentang korupsi yang telah menorehkan prestasi Indonesia sebagai peringkat 5 negara terkorup Asia Tenggara ini. Kebetulan beberapa hari yang lalu, materi kuliah Etika Profesi yang saya ikuti banyak berbicara mengenai masalah ini sebagai tema pokoknya. Kuliah gabungan di gedung yang pengapnya kebangetan di suatu sore di penghujung akhir pekan kelihatannya membosankan untuk dihadiri memang. Tapi maaf mengecewakan anda, kuliah ini ternyata benar-benar luar biasa menarik. Banyak diskusi terlontar dari beberapa pihak. Kuliah hidup. Sambil kipas-kipas kegerahan diskusi semakin memanas. Dan satu catatan penting, ternyata kita semua, saya dan anda, sangat dekat dengan korupsi.

Menurut bahasa asalnya, Latin, korupsi di ambil dari kata corruptio, pengembangan dari kata kerja corrumpere, memiliki arti: busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, atau menyogok. Secara harfiah, menurut sumber website Transparency International, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus/politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. Menurut salah satu pengamat hukum yang kebetulan dibahas dalam kuliah saya waktu itu, korupsi berarti suatu perbuatan melawan hukum yang dilakukan pejabat negara untuk menguntungkan dirinya atau orang lain yang mengakibatkan kerugian negara. Pertanyaan yang muncul kemudian setelah mengetahui arti kata korupsi ini adalah: Pernahkah anda melakukannya?

Well, sebagai manusia pada umumnya, kebanyakan dari kita akan mengatakan bahwa korupsi adalah perbuatan hina dan tidak pernah, bahkan tidak akan pernah, untuk melakukannya. Sebagian yang lain mungkin saja secara sadar mengakui bahwa pernah melakukan korupsi kecil-kecilan semacam datang terlambat (korupsi waktu). Yang tidak disadari oleh orang-orang pada umumnya, khususnya mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara ini, adalah bahwa ternyata bermalas-malasan mengikuti kuliah adalah termasuk salah satu bentuk korupsi.

Seperti kita ketahui bersama, kampus keren bernama STAN ini, dan juga mungkin beberapa unversitas negeri lainnya, dibangun atas anggaran pemerintah, dibiayai dengan uang negara, dan berdiri hingga sekarang dari duit pajak. Mahasiswanya belajar dibiayai oleh negara, dipinjami buku oleh negara, bahkan fasilitas terkinipun dari anggaran negara. Sudah sepantasnyalah kegiatan belajar-mengajar yang duitnya berasal dari pungutan pajak masyarakat satu republik ini berlangsung dengan kondusif. Namun, apa yang terjadi di lapangan ternyata tidak begitu menggembirakan. Banyak mahasiswa jempolan yang belajar dengan kesungguhan hati, tetapi ternyata jauh lebih banyak mereka yang lebih memilih berkutat dengan kemalasan dan lingkungan yang terlanjur mengajak santai. Kuliah tidak lain adalah bersemangat duduk di pojokan, mengangkat tangan tinggi-tinggi saat disebut namanya dalam daftar kehadiran, lalu dengan kantuk tertahan berdoa semoga kuliah cepat selesai di sisa waktunya. Belajar di rumah menjadi ajang menyalin tugas dari kunci jawaban, dan sudah menjadi rutinitas untuk berkutat dengan kisi-kisi di suatu malam menjelang ujian semester. Tidak dapat disalahkan memang, tidak dapat dihindarkan. Namun hal semacam ini bukanlah hal yang baik untuk dipelihara adanya. Bukankah hal-hal semacam ini yang secara tidak langsung dapat merontokkan mentalitas negara ini? Bukankah hal semacam ini yang disebut korupsi? Menyia-nyiakan amanah dan uang negara yang dibebankan pada otak dan gagasan kita mahasiswa negara, atau kalau boleh saya lancang bicara, merugikan negara demi kepentingan pribadi untuk bersenang-senang. Ini korupsi, sodara, ya, ini korupsi. Jadi, mana bukti teriakan anti korupsi anda? Mari bangkit melawan korupsi, melawan kemalasan dan kebodohan.



Sebenarnya, jangan anda pikir ini hanya wacana omong kosong yang tidak akan direalisasikan oleh saya sendiri. Belajar tentang omong kosong, kebetulan dalam kuliah tersebut juga diajarkan mengenai apa yang disebut dengan 'banyak bicaralah tentang omong kosong kebaikan'. Konsep dari ajaran ini mudah saja: Selama masih ada rasa malu, berkatalah tentang kebaikan banyak-banyak kepada orang lain. Dan biarkan rasa malu mendorong sampean ikut melakukan apa yang sampean ucapkan itu.

Selamat membuat KTTA, sodara sekalian.

Saturday, January 23, 2010

Lihat Yang Tak Terlihat

Apakah kita yakin apa yang kita lihat selama ini adalah benar-benar apa yang terjadi sebenarnya?

Hal itu sempat terbesit dalam pikiran saya waktu saya masih berada di bangku sekolah dasar. Waktu itu, entah dari mana asalnya, tiba-tiba saya mulai termenung dan berfikir sekaligus takut: Bagaimana kalau pandangan mata saya ini adalah salah? Bagaimana kalau apa yang saya lihat ini bukan apa yang ada sebenarnya? Bagaimana kalau saat berjalan, tiba-tiba kepala saya terbentur sesuatu yang dalam pandangan saya tidak ada apa-apa? Apakah yang saya lihat ini adalah sama dengan apa yang dilihat oleh orang lain?

Well, itu adalah pemikiran masa kecil saya. Pemikiran yang benar-benar harafiah tentang sisi pandang dan fungsi kerja otak dan mata. Bukan pemikiran secara filosofi sudut pandang dari segi ilmu sosial. Kemampuan nalar seorang bocah ingusan seperti saya waktu itu lebih tertarik pada ilmu pasti, bukan filosofi. Lalu, apakah benar apa yang kita lihat selama ini, yang ditangkap oleh mata kita ini lalu diproses oleh otak kita sehingga muncul sebuah visualisasi ini adalah apa yang sebenarnya terjadi?
Kebetulan sekali saya menemukan thread bagus di Kaskus. Judulnya kalau tidak salah adalah Ayo Tipu Otak Kita, dan saat saya menulis postingan ini, thread ini sedang berada di hot thread saking bagusnya. Hal pertama yang ada di thread ini adalah sebuah gambar bergerak yang berwarna abu-abu dengan titik-titik berwarna merah muda membentuk sebuah lingkaran yang mati secara bergantian searah jarum jam. Just take a look by yourself.



Nah, inti dari ‘permainan’ ini adalah bagaimana kita dapat mengelabuhi otak kita lewat pandangan mata kita. Jadi yang akan kita lakukan adalah mencoba memfokuskan pandangan kita pada sati titik di pusat lingkaran tersebut yang ditandai dengan tanda +. Pusatkan pandangan mata anda pada tanda +, maka secara sekilas anda akan menemukan bahwa bulatan merah muda yang mati tersebut akan digantikan oleh bulatan berwarna hijau, yang sebenarnya tidak ada. See?

Sekarang perhatikan lagi tanda + tersebut dengan lebih fokus. Jangan pernah melepaskan fokus anda pada tanda + sedikitpun, maka anda akan melihat bulatan merah muda tersebut hilang satu persatu dan haya menyisakan bulatan hijau yang berputar-putar. Kalau anda tidak dapat melihatnya, cobalah untuk lebih memfokuskan pandangan anda jauh lebih fokus dari sebelumnya. Apabila anda dapat melakukan hal tersebut, maka selamat anda berhasil menipu otak anda!

Saya sebenarnya juga tidak tau apa kolerasi statement pertama saya di atas dengan gambar bergerak dari kaskus ini. Namun apabila anda memaksa saya memberikan sebuah kesimpulan, maka kesimpulan saya atas hal ini semua adalah:

Jangan pernah percaya pada siapapun, bahkan pandangan mata anda sendiri, terutama pada anggota pansus DPR Bank Century atau pada pemberitaan media. Karena orang-orang semacam itu lebih banyak memiliki kepentingan politis daripada kepentingan mencari kebenaran yang sebenarnya. Terakhir yang paling penting, jangan pernah mempercayai saya. Karena percaya pada saya adalah tanda-tanda musyrik, maka, percayalah pada Tuhan Yang Maha Esa. Ngookk!

Wednesday, January 20, 2010

Kenapa Saya Prustasi

Tau nggak kenapa saya lagi prustasi malem ini?
Nggak tau?
Beneran nggak tau?
Ayo dong dipikir dulu, masa nyerah gitu aja.
Sumpah nggak tau?
Aahh yang bener?
Loh kok malah balik nanya.
Iya saya emang lagi prustasi
Sumpah iyaaa beneraan
Iyaa iya

Hayo kenapa coba bisa gitu?
Gitu ya gitu, prustasi
Iya kenapa saya lagi prustasi?
Loh, makanya coba tebak dong
Haduh haduh bukan maksud saya maen tebak-tebakan
Ya pokoknya saya nanya kenapa saya lagi prustasi malem ini
Iya saya nanya kamu, siapa lagi
Iya sih yang lagi prustasi saya, tapi saya nanya kamu
Loh gimana sih saya malah makin prustasi
Udah pokoknya jawab aja deh ngasal aja gapapa
Iya asal aja jawabannya gapapa deh
Nggak nggak, saya nggak marah kok
Hadeeuuhh susah banget sih ngomong sama kamu
Aaaarrrggghhhhh

Udah udah, sini saya kasih tau aja
Jadi kenapa saya lagi prustasi malem ini?

Soalnya saya besok presentasi mata kuliah Budaya Nusantara
Dan presentasinya itu tentang suku Jawa
Dan presentasinya itu pake perform gitu
Dan performnya otomatis tentang budaya Jawa
Dan performnya itu ya pasti pake pakean adat Jawa
Jadi kenapa saya prustasi?



Soalnya saya nggak bisa ngebayangin saya kuliah besok sambil pake ini



Hwaaaaaa. Bubar bubar

Tuesday, January 19, 2010

Ketika Sosial Network Bersaksi



Kadang menjadi sampah itu bukanlah ide yang terlalu buruk, bukan?

Pertanyaan ini suatu saat saya sampaikan kepada blog, twitter, dan facebook. Dan apa jawaban mereka?

Sang facebook pernah mengeluh kepada saya suatu malam tentang persaingan comment pada status update yang cenderung dimonopoli oleh golongan kaum hawa berparas cantik, tidak peduli betapa hambarnya status update yang mereka ciptakan, sehingga status-status berkualitas akan tidak mendapat porsi comment yang memadai selama mereka dibuat oleh golongan kaum adam terutama yang tidak memiliki tampang cukup. Saya menanggapi keluhan tersebut dengan senyum kecut sambil mengangguk-angguk sedikit lalu menepuk bahu sang facebook sambil berujar: 'Bener juga, tapi toh kamu diciptakan bukan buat dikomen saja kan? Itulah gunanya Group, Le. Pemerintah saja bisa diintervensi pelan-pelan lewat Group satu juta facebooker bla bla punya kamu.'

Si twitter keesokan harinya baru bercerita sambil berbisik pelan-pelan ketika saya sedang asik menyeruput kopi hangat ketika hujan turun. Dia bercerita panjang lebar sambil berbisik mengenai trending topic yang kerap diciptakan oleh para penggunanya yang setelah dipikir-pikir hanya terdiri dari dua bahasa: Inggris dan Indonesia. Menariknya, lanjut dia, trending topic berbahasa Indonesia kebanyakan berisi ungkapan-ungkapan lucu dan beredar sekitar jam dua siang hingga lima sore, selepas itu trending topic diambil alih oleh yang berbahasa Inggris. Ya ya ya, saya sambil kembali menghirup kopi hangat hanya bisa mengangguk-angguk setuju sambil sesekali menggeleng tak percaya menyadari kebenaran bisikan si twitter. 'Tapi tweeting pada intinya bukan dibikin buat trending topic saja toh? Itulah kenapa kamu bisa populer, Le, karena informasi menjadi lebih mudah tersebar. Luna Maya saja bisa mendadak bikin infotaintment geger': ujar saya.

Si blog lain lagi, dia teriak-teriak kepada saya dua hari kemudian gara-gara merasa diacuhkan dan kurang diurusi karena kecenderungan penulis blog kebanyakan mengandalkan mood bagus saja untuk mulai menulis. Si blog demo besar-besaran di depan kediaman saya sambil mengajak beberapa blog teman-temannya. Mereka berunjuk rasa gede-gedean menuntut persamaan hak dengan dua situs yang lain, facebook dan twitter, untuk selalu diurusi setiap waktu, selalu dibuka sepanjang berselancar di internet, selalu dikunjungi setiap Google Chrome nyala. Kali ini saya tertohok dan diam saja, kehabisan kata-kata dan mendengus pelan sambil membatin: 'Sabar sabar, duh Gusti, emang bener kalo Blog itu selalu bikin gempar begini. Penistaan agama aja udah canggih lewat Blog sekarang.'

Monday, January 18, 2010

Tolerance Phenomena

Baru beberapa saat saya pulang ke rumah sepulang dari kuliah pagi yang nggak ada dosennya, seperti biasa, saya dikejutkan oleh panggilan seseorang di pintu pagar depan rumah. Beranjak ke depan, saya menemukan seorang peminta sumbangan dengan amplop cokelat besar di antara ketiaknya menyodorkan sebuah eksemplar kertas berisi data penyumbang dengan jumlah nominal puluhan ribu rupiah yang – entah benar atau tidak – telah berhasil menyumbang beberapa rupiah kepadanya. Mungkin hal ini sudah lazim terjadi di antara kita semua para penghuni perumahan-perumahan, peminta sumbangan dengan atas nama pembangunan masjid A atau perbaikan pondok pesantren B lalu bersliweran mancari dana hingga ke kota-kota besar walaupun toh masjid atau pondok pesantren yang tertera untuk disumbang berada nun jauh di daerah. Sudah biasa dan tidak menarik untuk membahas tentang sumbang menyumbang ini? Oh tentu saja, sampai saya menemukan link ini di Google yang membuat saya teringat akan seruan beberapa teman melalui notes di facebook. Berikut print screen link tersebut diikuti beberapa link lain yang bermasalah. Klik untuk memperjelas

apakah yg kalian lakukan thd onta berjubah peminta sumbangan

pengadilan in absentia "nabi" Muhammad atas kejahatan kemanusiaan


Dengan tidak bermaksud menyerang pihak tertentu, saya pikir fenomena menjelek-jelekan agama tertentu dengan tujuan tertentu yang saya nggak habis pikir adalah fenomena kelas rendahan. Saya lebih senang menyebut ini sebagai salah satu bukti kegagalan sistem pendidikan kita. Mengapa begitu? Karuan saja, bukti bahwa orang-orang yang membuat topik semacam ini muncul ke permukaan adalah bukti bahwa kebodohan nasional adalah nyata adanya. Dan yaa, tidak lain tidak bukan, pencerca agama adalah orang bodoh, percaya atau tidak. Mereka tidak belajar sejarah, mereka kurang memposisikan logika otak mereka sebagaimana mestinya, dan mereka penurut hawa nafsu. Satu hal yang akhirnya menyebabkan munculnya website-website semacam ini adalah ketidakmengertian dan ketidaktahuan pihak-pihak tertentu tentang perbedaan Budaya Indonesia dan Budaya Agama tertentu. Yang ada di otak mereka adalah bagaimana cara untuk menjelekkan pihak lain dengan bermacam alasan. Dan akhirnya beberapa budaya buruk orang Indonesia mereka sangkut pautkan dengan budaya agama tertentu dengan alasan mayoritas. Ndak masuk akal.

Bukankah negara ini akan jauh lebih indah kalau orang-orangnya saling bersahabat dan saling menghormati?