Ini adalah hari kedua saya memandangi layar putih dengan kursor berkedip-kedip di dalamnya. Menatap sebuah kolom New Blog Post tetapi tidak tahu harus menulis apa dan harus memulai dari mana. Otak saya kelihatannya sedang membeku dua hari belakangan. Bahkan mungkin ia telah berkompromi dengan jantung saya yang mulai cepat degupnya agar memberi sensasi yang kurang dapat saya pahami di dalam tubuh saya ini. Entahlah. Masih terekam jelas dalam ingatan saya bagaimana bau rumput di samping danau waktu itu. Masih membekas jelas di tempurung kepala saya bagaimana lembutnya angin pagi itu. Dan masih terasa sampai saat ini bagaimana kacaunya perasaan saya kala itu. Sebut sajalah saya terlalu lebay atau semacamnya. Karena memang otak saya sedang tidak dalam kesadaran penuh saat saya menulis kata-kata ini. Karena memang demikian keadaannya saat akal saya terlalu banyak mendapat pengaruh hormon yang memabukkan. Karena memang beginilah adanya, ketika anak manusia sedang jatuh cinta. [A Thousand Candles Lighted – Endah n Resha playing in backsound]

Depok - 20 Desember 2009
Minggu pagi yang berawan dengan intensitas sinar matahari yang cukup dan aktivitas orang-orang yang ramai di halaman hijau terbuka kampus ini. Saya tengah duduk bermenit-menit di sebuah tempat duduk beton panjang samping Balairung sampai dia akhirnya datang dengan setelan menarik dan rambut diikat asal. Pun saya tidak mengerti bagaimana saya kemudian tersenyum melihat wajahnya yang berpeluh-peluh kelelahan menenteng tas laptop. Yang saya tau, dia sangat cantik hari ini.
Dia menepati janjinya dengan manis untuk memberikan saya hadiah ulang tahun yang terlambat ketika memungut sebuah bungkusan dengan kertas kado bercorak lucu dari dalam tasnya lalu menyodorkannya di depan muka saya. Lalu menyusul sepotong cake mini dengan banyak taburan cokelat serut, krim gula, dan potongan ceri di topingnya dia keluarkan. Saya membuka bungkusan kertas kado dan mendapati sebuah jam tangan lucu di dalamnya lengkap dengan gulungan-gulungan kertas berisi tulisan tangannya. Dia menarik dengan segala kejutan-kejutan kecilnya, saya selalu suka semua tentang dia.
Kami beranjak duduk beralas rumput dingin di samping danau, mulai mencomot krim gula di cake cokelat, lalu sedetik kemudian saling serang mengoleskan krim-krim gula di pipi kami sambil tertawa lebar-lebar. Kami bergantian menyendok bekal nasi ayam yang dia bawa. Kami bertukar cerita. Kami tergelak tertawa bersama. Kami terdiam beberapa saat. Kami bercerita lagi. Kami tertawa lagi. Diam lagi. Lalu kami tersadar saling bertatap pandang beberapa detik.
Dia menarik dengan segala apa yang ada pada dirinya, dan saya selalu suka semua tentang dia.
Ketika hari mulai beranjak dan hangat berubah panas, kami memilih duduk di undakan di bawah pohon-pohon rindang berdaun kekuningan. Mulai banyak bicara tentang hari ini dan hari esok. Tentang hari-hari saat nanti jarak menjadi sangat jauh terbentang, saat nanti kesibukan mulai banyak mendera, dan nanti saat waktu-waktu duduk bersama semakin jarang terulang. Kami mulai banyak diam. Perasaan berubah dari gelak tawa menjadi rindu yang tidak tertahan. Pun saat ujung matanya mulai berair, saya masih tetap melihatnya sangat cantik hari ini.
Petang cepat terbentang. Kami sepakat untuk membatalkan jadwal nonton. Kami hanya berfikir duduk bersama di bawah pohon-pohon rindang berdaun kekuningan tidak dapat digantikan oleh bagaimanapun luar biasanya Avatar apalagi Sang Pemimpi. Sebuah resto pizza di sebuah pusat perbelanjaan menjadi pilihan kami saat waktu makan malam mulai tiba. Kami menyendok salad dengan mayones banyak-banyak, saling berbagi pasta daging sapi saus barbekyu, berebutan saus sambal, menggigit pingiran pizza, bercerita tentang hal-hal tidak penting panjang lebar, lalu saling pandang melalui cermin wastafel. Kami tidak ingin hari mengakhiri waktu-waktu seperti ini. Entahlah, kami hanya tidak ingin ini semua berakhir walaupun beberapa menit kemudian kami pun akhirnya benar-benar tiba di tempat di mana kami harus berpisah pulang. Dan saat punggungnya mulai menjauh, saya masih tetap menyadari satu hal, dia cantik hari ini. Dan satu hal lain yang saya tidak sadari: saya telah jatuh cinta (lagi) kepada dia.

Depok - 20 Desember 2009
Minggu pagi yang berawan dengan intensitas sinar matahari yang cukup dan aktivitas orang-orang yang ramai di halaman hijau terbuka kampus ini. Saya tengah duduk bermenit-menit di sebuah tempat duduk beton panjang samping Balairung sampai dia akhirnya datang dengan setelan menarik dan rambut diikat asal. Pun saya tidak mengerti bagaimana saya kemudian tersenyum melihat wajahnya yang berpeluh-peluh kelelahan menenteng tas laptop. Yang saya tau, dia sangat cantik hari ini.
Dia menepati janjinya dengan manis untuk memberikan saya hadiah ulang tahun yang terlambat ketika memungut sebuah bungkusan dengan kertas kado bercorak lucu dari dalam tasnya lalu menyodorkannya di depan muka saya. Lalu menyusul sepotong cake mini dengan banyak taburan cokelat serut, krim gula, dan potongan ceri di topingnya dia keluarkan. Saya membuka bungkusan kertas kado dan mendapati sebuah jam tangan lucu di dalamnya lengkap dengan gulungan-gulungan kertas berisi tulisan tangannya. Dia menarik dengan segala kejutan-kejutan kecilnya, saya selalu suka semua tentang dia.
Kami beranjak duduk beralas rumput dingin di samping danau, mulai mencomot krim gula di cake cokelat, lalu sedetik kemudian saling serang mengoleskan krim-krim gula di pipi kami sambil tertawa lebar-lebar. Kami bergantian menyendok bekal nasi ayam yang dia bawa. Kami bertukar cerita. Kami tergelak tertawa bersama. Kami terdiam beberapa saat. Kami bercerita lagi. Kami tertawa lagi. Diam lagi. Lalu kami tersadar saling bertatap pandang beberapa detik.
Dia menarik dengan segala apa yang ada pada dirinya, dan saya selalu suka semua tentang dia.
Ketika hari mulai beranjak dan hangat berubah panas, kami memilih duduk di undakan di bawah pohon-pohon rindang berdaun kekuningan. Mulai banyak bicara tentang hari ini dan hari esok. Tentang hari-hari saat nanti jarak menjadi sangat jauh terbentang, saat nanti kesibukan mulai banyak mendera, dan nanti saat waktu-waktu duduk bersama semakin jarang terulang. Kami mulai banyak diam. Perasaan berubah dari gelak tawa menjadi rindu yang tidak tertahan. Pun saat ujung matanya mulai berair, saya masih tetap melihatnya sangat cantik hari ini.
Petang cepat terbentang. Kami sepakat untuk membatalkan jadwal nonton. Kami hanya berfikir duduk bersama di bawah pohon-pohon rindang berdaun kekuningan tidak dapat digantikan oleh bagaimanapun luar biasanya Avatar apalagi Sang Pemimpi. Sebuah resto pizza di sebuah pusat perbelanjaan menjadi pilihan kami saat waktu makan malam mulai tiba. Kami menyendok salad dengan mayones banyak-banyak, saling berbagi pasta daging sapi saus barbekyu, berebutan saus sambal, menggigit pingiran pizza, bercerita tentang hal-hal tidak penting panjang lebar, lalu saling pandang melalui cermin wastafel. Kami tidak ingin hari mengakhiri waktu-waktu seperti ini. Entahlah, kami hanya tidak ingin ini semua berakhir walaupun beberapa menit kemudian kami pun akhirnya benar-benar tiba di tempat di mana kami harus berpisah pulang. Dan saat punggungnya mulai menjauh, saya masih tetap menyadari satu hal, dia cantik hari ini. Dan satu hal lain yang saya tidak sadari: saya telah jatuh cinta (lagi) kepada dia.






















